Jumat, 02 Oktober 2015

BIOLOGI REPRODUKSI MAKALAH PERSALINAN

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Dalam proses persalinan biasanya membuat gelisah sampai panik bagi orangtua yang baru akan menjalani proses tersebut. Hal ini dikarenakan orangtua tersebut belum berpengalaman dan belum memiliki cukup pengetahuan tentang proses bersalin itu sendiri. Bukan hanya itu factor yang menyebabkan orangtua panik akan proses persalinan, ketakutan akan melahirkan itu sendiri juga menjadi factor yang berperan penting dalam persalinan. Dalam hal inilah, perawat berperan penting sebagai educator untuk memberikan pengetahuan tentang proses persalinan kepada pasangan suami istri yang akan menjadi orangtua. Bukan hanya mereka yang merasakan kepanikan, tetapi orangtua yang telah melahirkan sebelumnya pun bisa juga panik, karena pengalaman masa lalu yang tidak mengenakkan.
Persalinan itu sendiri merupakan suatu proses alami yang akan berlangsung dengan sendirinya, tetapi persalinan pada manusia setiap saat terancam penyulit yang membahayakan ibu maupun janinnya sehingga memerlukan pengawasan, pertolongan dan pelayanan dengan fasilitas yang memadai. Persalinan pada manusia dibagi menjadi empat tahap penting dan kemungkinan penyulit dapat terjadi pada setiap tahap tersebut.
Dalam persalinan terjadi perubahan-perubahan fisik di antaranya adalah ibu akan merasa sakit pinggang, lesu, merasa kurang enak, tidak bias tidur enak, sering kesulitan bernafas dan perubahan-perubahan psikis diantaranya adalah perasaan takut sehubungan dengan dirinya sendiri, takut kalau terjadi bahaya atas dirinya pada saat persalinan, takut tidak dapat memenuhi kebutuhan anaknya. Ketakutan karena anggapannya sendiri bahwa persalinan itu merupakan hal yang membahayakan.
Persalinan postmatur adalah kehamilan yang melewati 294 hari atau lebih dari 42 minggu lengkap. Postmatur menunjukkan atau menggambarkan keadaan janin yang lahir telah melampaui batas waktu persalinannya, sehingga dapat menyebabkan beberapa komplikasi. Persalinan postmatur juga bisa menyebabkan ibu dan bayinya meninggal dunia.
Untuk itulah penulis mengangkat masalah ini, karena ini juga berkaitan dengan pengetahuan yang akan diberikan kepada masyarakat umum khususnya ibu-ibu yang akan melahirkan.

1.2  Rumusan masalah
  1. Apa yang dimaksud dengan konsep persalinana normal ?
  2. Bagaimana adaptasi fisik dan psikologis pada ibu selama proses kehamilan ?
  3. Bagaimana penatalaksanaan nyeri nonfarmakologis ?

1.3  Tujuan
            1.      Memahami konsep persalinan normal
            2.      Mengetahui adaptasi fisik dan psikologis pada ibu selama proses kehamilan
            3.      Mengidentifakasi penatalaksanaan nyeri nonfarmakologis   


BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Konsep Persalinan Normal
Persalinan adalah proses pergerakan keluar janin, plasenta , dan membrane dari dalam rahim melalui jalan lahir. Berbagai perubahan terjadi pada proses reproduksi wanita dalam hitungan hari dan minggu sebelum persalinan dimulai (Bobak, 2004).
Persalinan normal adalah persalinan lewat vagina. Pada persalinan normal, proses persalinan diawali dengan rasa mulas dan keluarnya lendir bercampur darah dari vagina. Rasa mulas dan nyeri (his) biasanya datang secara teratur, semakin lama semakin kuat dan semakin nyeri, sampai anak berhasil dilahirkan. Proses kelahiran anak diikuti oleh kelahiran ari-ari. Seringkali jalan lahir mengalami robekan (ruptur perineum) dan butuh beberapa jahitan untuk memperbaikinya. (Paisal, 2007)
2.2 Sebab - Sebab Persalinan
Selama persalinan terdapat kontraksi-kontraksi uterus yang dikenal sebagai kontraksi Braxton Hicks. Beberapa teori yang dikemukakan ialah:
          1)      Penurunan kadar progesterone
Progesterone menimbulkan relaksasi otot-otot rahim. Sebaliknya estrogen meninggikan prentanan otot rahim. Selama kehamilan terdapat keseimbangan antara kadar progesterone dan estrogen di dalam darah, tetapi pada akhir kehamilan kadar progesterone menurun sehingga timbul His.
2)      Teori oksitosin
Pada akhir kehamilan kadar oksitosin bertambah. Oleh karena itu timbul kontraksi otot-otot rahim. 
3)      Peregangan otot-otot
Seperti halnya dengan kandung kencing dan lambung, bila dindingnya teregang oleh karena isinya bertambah maka timbul kontraksi untuk mengeluarkan isinya. Demikian pula rahim, maka dwngan majunya kehamilan makin teregang otot-otot rahim makin rentang.
4)      Pengaruh janin
Hypofise dan kelenjar suprarenal janin rupa-rupanya juga memegang peranan oleh karena pada anencephalus kehamilan sering lebih lama dari biasa.
5)      Teori prostaglandin
Prostaglandin yang dihasilkan oleh decidua, disangka menjadi salah satu sebab permulaan persalinan. Hasil dari percobaan menunjukkan bahwa prostaglandin F2 atau E2 yang diberikan secara intravena, intra dan ekstraamnial menimbulkan kontraksi myometrium pada setiap umur kehamilan. Hal ini juga disokong dengan adanya kadar prostaglandin yang tinggi baik dalam air ketuban maupun darah perifer pada ibu-ibu hamil sebelum melahirkan atau setelah persalinan.

Tanda – tanda permulaan persalinan
Sebelum terjadi persalinan sebenarnya beberapa minggu sebelumnya wanita memasuki “bulannya” atau “minggunya” atau “harinya” yang disebut kala pendahuluan (preparatory stage of labor). Ini memberikan tanda-tanda sebagai berikut:
1.   Lightening atau settling atau dropping yaitu kepala turun memasuki pintu atas panggul terutama pada primigravida. Pada multipara tidak begitu kentara.
2.    Perut kelihatan lebih melebar, fundus uteri turun.
3.   Perasaan sering-sering atau susah kencing (polakisurya) karena kandung kemih tertekan oleh bagian terbawah janin.
4.  Perasaan sakit di perut dan di pinggang oleh adanya kontraksi-kontraksi lemah dari uterus, kadang-kadang disebut “false labor pains”.
5. Serviks menjadi lembek, mulai mendatar, dan sekresinya bertambah bisa bercampur darah (bloody show).

Tanda-tanda in-partu
1.    Rasa sakit oleh adanya his yang dating lebih kuat, sering dan teratur.
2. Keluar lender bercampur darah atau show yang lebih banyak karena robekan-robekan kecil pada serviks.
3.    Kadang-kadang ketuban pecah dengan sendirinya.
4.    Pada pemeriksaan dalam: serviks mendatar dan pembukaan elah ada.

Faktor-faktor yang berperan dalam persalinan adalah:
1.      Kekuatan mendorong janin keluar (power):
·         His atau kontraksi uterus
·         Kontraksi otot-otot dinding perut,
·         Kontraksi diafragma,
·         Dan ligmentous action terutama lig. Rotundum.
2.      Factor passanger(janin)
3.      Factor jalan lahir ( passage way)
4.      Psikologi
5.      Penolong
Pada waktu partus akan terjadi perubahan-perubahan pada uterus, serviks, vagina dan dasar panggul.

Syarat – syarat Persalinan
Suatu pimpinan persalinan normal dilakukan dengan syarat-syarat:
1.  Adanya Penolong Yang Terampil
a) Seorang pemberi asuhan yang profesional
b) Memiliki pengetahuan dan keterampilan untuk:
1) menatalaksana persalinan, kelahiran dan masa nifas,
2) dapat mengenali komplikasi-komplikasi,
3) mendiagnosis, menatalaksana atau merujuk ibu atau bayi ke tingkat asuhan yang lebih tinggi jika terjadi komplikasi yang memerlukan intervensi di luar kompetensi pemberi asuhan
c)  Dapat melakukan semua intervensi dasar kebidanan
2.  Kesiapan Menghadapi Persalinan serta Komplikasi Persalinan Bagi Pemberi Asuhan
a) Mendiagnosis dan menatalaksana masalah dan komplikasi dengan sesuai dan tepat waktu
b) Mengatur rujukan ke tingkat yang lebih tinggi bila diperlukan

Mekanisme Persalinan
Proses persalinan normal terbagi atas empat kala:
Persalinan Kala I
Proses pembukaan serviks  padaprimigravida (wanita yang hamil untuk pertama kalinya) terdiri dari 2 fase, yaitu a) fase laten berlangsung selama 8 jam sampai pembukaan 3 cm. His (gelombang kontraksi ritmis otot polos dinding uterus yang dimulai dari daerah fundus unteri pada daerah dimana tuba fallopi.) masih lemah dengan frekuensi his jarang, b) fase aktif terdiri dari 1) fase akselerasi (2 jam dengan pembukaan 2-3 cm), 2) fase dilatasi (maks 2 jam dengan pembukaan 4-9 cm), 3) fase deselerasi (2 jam, pembukaan >9 cm sampai pembukaan lengkap).His tiap 3-4 menit selama 45 detik. Pada multigravida proses berlangsung lebih cepat.

Penatalaksanaan Persalinan Kala I
Menilai kondisi ibu meliputi : nilai keadaan umum dan kesadaran ibu, nilai TTV. Melakukan pemeriksan luar meliputi : lakukan pemeriksaan Leopold I-IV, lakukan pemeriksaan bunyi jantung janin, tentukan kondisi janin ( janin di dalam atau diluar rahim, jumlah janin, letak janin, presentasi janin, menilai turunnya kepala janin, menaksir berat janin)  dan tentukan his ( lama kontraksi (detik), simetri, dominasi fundus, relaksasi optimal, interval (menit), dan intenitas kontraksi)
Melakukan pemeriksaan dalam meliputi : lakukan pemeriksaan vulva atau vagina, lakukan pemeriksaan colok vagina, nilai kondisi janin (presentasi, turunnya presentasi sesuai bidang Hodge, posisi, molase, kaput suksadeneum, bagain kecil disamping presentasi, dan anomaly kongenital) dan nilai kondisi panggul dalam (promontorium, konjugata diagonalis, konjugata vera, linea inominata, tulang sacrum, dinding samping, spina iskiadika, arcus pubis, cogsigis, panggul patologi, kesimpulan panggul dalam). Nilai adanya tumor jalan lahir, tentukan imbang tetopelviks, tetapkan diagnosis in partu dan rencana persalinan.
Pantau kemajuan persalinan, kondisi ibu dan janin sesuai petunjuk partograf. Hasil pemeriksaan dimasukkan ke lembar partograf. Bila kemajuan persalinan normal, lanjutkan pemantauan hingga tercapai kala 2. Bila kemajuan persalinan tidak normal, tentukan tindakan yang perlu dilakukan atau rujuk ibu ke sarana medis yang memadai.
Kosongkan kandung kemih dan rectum.  
Pada kalai ini, ibu tidak diperbolehkan mengejan.
Set Partus steril yang harus disediakan adalah 2 pasang sarung tangan, 1 gunting episiotomy, 1 gunting tali pusat, 2 klem tali pusat, 1 pemecah ketuban, 1 benang/ pita tali pusat, 1 kain duk steril, dan kasa steril.
Persalinan Kala II
Setelah serviks membuka lengkap, janin akan segera keluar. His terjadi tiap 2-3 menit, lamanya 60—90 detik. His sempurna dan efektif bila ada koordinasi gelombang kontraksi sehingga kontraksi simetri dengan dominasi di fundus uteri, mmempunyai amplitude 40-60 mmHg, berlangsung 60-90 detik dengan jangka waktu 2-4 menit, dan tonus uterus saat relaksasi kurang dri 12 mmHg. Pada primigravida kala II berlangsung kira-kira 1.5 jam dan pada multigravida 0.5 jam.

Penatalaksanaan  persalinan Kala II.
Ibu dipimpin mengejan saat ibu ingin terus-menerus mengejan, perineum teregang, anus terbuka, dan tampak bagian mukosa anus, kepala bayi mulai crowning(kepala bayi tampak di vulva dengan diameter 3-4 cm). Lakukan episiotomy medialis / medio lateralis bila diperlukan. Episiotomi dilakukan pada primipara atau multipara bila dinding introitus vagina kaku. Sebelumnya dilakukan anastesi local infiltrasi di tempai episiotomy menggunakan lidokain 1 % 3-4 ml. Saat perineum sudah sangat tipis atau diameter pembukaan vulva 4-5 cm bertepatan dengan his, lakukan episiotomy dengan cara jari 2 dan 3 tangan kiri dirapatkan, dimasukkan anatar kepala janin dan dinding vagina menghadap ke penolong. Pegang gunting episiotomy dengan tangan kanan, masukkan secara terbuka dengan perlindung jari 2 dan 3.
-       Saat his, ibu diminta menarik nafas dalam dan menutup mulut rapat-rapat, kemudian mengejan pada perut dengan kekuatan penuh. Lahirkan kepala bayi dengan cara menahan perineum menggunakan ibu jari dan jari 2-3 tangan kanan yang ditutup kain duk steril dan menekan kea rah cranial. Tangan kiri menahan defleksi maksimal kepala bayi dengan suboksiput sebagai hipomoklion, berturut-turut akan lahir dahi, mata, hidung, mulut, dan dagu. Bersihkan lendir di mulut dan hidung bayi.
-       Biarkan kepala bayi mengadakan putaran paksi luar. Bila perlu, bantu putaran paksi luar.
-       Bila ada lilitan tali pusat pada leher bayi :
Tali pusat kendor : longgarkan dan bebaskan tali pusat dengan bantuan jari penolong
Tali pusat ketat : jepit tali pusat dengan klem di dua tempat dan tali pusat di potong di antara dua klem tersebut dengan gunting tali pusat
-       Lahirkan bahu bayi dengan cara tetap memegang kepala bayi secara biparietal dan menarik cunam ke belakang untuk melahirkan bahu depan dahulu kemudian kearah dapan untuk melahirkan bagian belakang
-       Lahirkan badan bayi dengan tetap memegang kepala bayi secara biparietal, melakukan tarikan searah legkung panggul sampai lahir seluruh badan bayi. Bila terasa berat dapat dibantu dengan dorongan ringan pada fundus uteri oleh asisten atau dengan cara mengait ketiak bayi dan menariknya secara perlahan.
-       Letakkan bayi pada kain duk steril di atas perut ibu
-       Lakukan resusitasi bayi baru lahir bila diperlukan dan tentukan nilai APGAR.
-       Sesegera mungkin lakukan pembersihan mulut atau jalan nafas.
-       Jepit tali pusat dengan klem Kohler I berjarak 5 cm dari perut bayi, tali pusat dikosongkan dari darah dengan diurut kea rah plasenta, kemudian dijepit dengan Klem Kohler II, jarak 1-2 cm dari klem Kohler I kea rah Plasenta. Tali pusat digunting diantra 2 klem Kohler. Ikat tali pusat dengan benang 2 kali berlawanan arah. Tali pusat dibalut dengan kasa steril yang dibasahi antiseptic ringan.

Persalinan Kala III ( kala pengeluaran plasenta )
Berlangsung 6-15 menit setelah janin dikeluarkan
Penatalaksanaan persalinan kala III
Setelah bayi dilahirkan lengkap dan digunting tali pusatnya, pegang kedua kaki bayi dan bersihkan jalan nafas. Bila bayi belum menangis, rangsanglah supaya menangis, bila perlu dengan resusitasi. Selanjutnya rawat tali pusat dan sebagainya. Kemudian kosongkan kandung kemih ibu. Lahirkan plasenta 6-15 menit kemudian. Jangan tergesa-gesa menarik plasenta untuk melahirkannya bila plasenta belum lepas. Setelah plasenta lahir, periksa dengan cermat apakah ada selaput ketuban yang tertinggal atau plasenta yang lepas. Periksa ukuran dan berat plasenta.
Periksa lagi ke dalam lahir, apakah masih ada perdarahan dan jaringan yang tertinggal. Periksa juga kontraksi uterus. Bila kontraksi baik akan terlihat fundus uteri setinggi pusat dank eras seperti batu.
Cara pelepasan plasenta:
  
  1. Secara Schultze
Pelepasan dimulai pada bagian tengah dari plasenta dan disini terjadi hematoma retro placentair yang selanjutnya mengangkat plasenta dari dasarnya. Plasenta dengan hematoma di atasnya sekarang jatuh kebawah dan menarik lepas selaput janin. Bagian plasenta yang nampang dalam vulva ialah permukaan foetal, sedangkan hematoma sekarang terdapat dalam kantong yang terputar balek. Maka pada pelepasan plasenta secara Schultze tidak ada perdarahan sebelum plasenta lahir atau sekurang-kurangnya terlepas seluruhnya. Baru setelah plasenta terlepas seluruhnya atau lahir, darah sekonyong-konyong mengalir.

  1. Secara Duncan
Pada pelepasan secraa Duncan pelepasa mulai pada pinggir plasenta. Darah mengalir keluar antara selaput janin dan dinding rahim, jadi perdarahan sudah ada sejak sebagian dari plasenta terlepas dan terus berlangsung sampai seluruh plasenta lepas. Plasenta lahir dengan pinggirnya terlebih dahulu. Pelepasa secra duncan terutama terjadi pada plasenta letak terendah.
 
Pentingnya mengetahui apakah plasenta telah lepas atau belum ialah untuk melahirkan plasenta dengan komplikasi dengan sekecil-kecilnya. Bila plasenta dipaksa untuk dilahirkan saat belum terlepas dari dinding uterus, retensio plasenta dapat terjadi

Persalinan Kala IV ( sampai 1 jam setelah plasenta keluar )
Kala ini penting untuk menilai perdarahan ( maksimal 500 ml ) dan baik tidaknya kontraksi uterus.

Penatalaksanaan persalinan kala IV
Sebelum meninggalkan wanita post partum, harus diperhatikan beberapa hal yaitu kontraksi uterus harus baik, tidak ada perdarahan dari vagina atau alat-alat genital lainnya, plasenta dan selaput ketuban harus sudah lahir lengkap, kandung kemih harus kosong, luka-luka perineum terawatt dengan baik dan tidak ada hematom, ibu dan bayi dalam keadaan baik. Keadaan ini harus sudah dicapai dalam waktu 1 jam setelah plasenta lahir lengkap. 

2.4 Mekanisme Persalinan
Selama proses persalinan, janin melakukan serangkaian gerakan untuk melewati panggul  “seven cardinal movements of labor”  yang terdiri dari :
1.      Engagemen adalah suatu keadaan dimana diameter biparietal sudah melewati pintu atas panggul. Pada 70% kasus, kepala masuk pintu atas panggul ibu dengan oksiput melintang.
2.      Penurunan adalah gerakan bagian presentasi melewati panggul. Penurunan terjadi akibat tiga kekuatan : a ) tekanan dari cairan amnion, b) tekanan langsung kontraksi fundus pada janin, c) kontraksi diagfragma dan otot-otot abdomen ibu pada tahap kedua persalinan.
3.      Fleksi. Terjadi akibat adanya tahanan servik, dinding panggul dan otot dasar panggul. Fleksi kepala diperlukan agar dapat terjadi engagemen dan desensus.
4.      Desensus. Multipara : desensus dan engagemen berlangsung bersamaan dengan dilatasi servik. Penyebab terjadinya desensus : Tekanan cairan amnion, tekanan langsung oleh fundus uteri pada bokong,usaha meneran ibu,gerakan ekstensi tubuh janin
5.      Putar Paksi Dalam. Bersama dengan gerakan desensus, bagian terendah janin mengalami putar paksi dalam pada level setinggi spina ischiadica (bidang tengah panggul). Kepala berputar dari posisi tranversal menjadi posisi anterior (kadang-kadang kearah posterior). Putar paksi dalam berakhir setelah kepala mencapai dasar panggul.
6.      Ekstensi. Saat kepala janin mencapai perineum, kepala akan defleksi kea rah anterior oleh perineum. Mula-mula oksipiut melewatyi permukaan bawah simpisis pubis kemudian kepala muncul keluar akibat ekstensi. Pertama-tama oksiput, kemudian wajah, dan akhirnya dagu.
7.      Restusi dan Putaran Paksi luar. Restusi adalah perputaran bayi hingga mencapai posisi yang sama dengan saat dia memasuki pintu atas setelah kepala lahir. Putaran 450 membuat kepala janin kembali sejajar dengan punggung dan bahunya. Dengan demikian, kepala dapat terlihat berputar lebih lanjut.

2.5 Perubahan Fisik Dan Psikologis Ibu Selama Persalinan
Adaptasi fisik dan psikologis pada ibu selama proses persalinan
Pemahaman yang mendalam tentang adaptasi ibu selama masa hamil akan membantu perawat mengantisipasi dan memenuhi kebutuhan wanita selama bersalin. Perubahan lebih lanjut terjadi seiring kemajuan tahapan persalinan wanita itu. Berbagai sistem tubuh beradaptasi terhadap proses persalinan, menimbulkan gejala, baik yang bersifat objektif maupun subjektif.

Adaptasi fisik
1.      Perubahan kardiovaskuler. Pada setiap kontraksi 400 ml darah dikeluarkan dari uterus dan masuk ke dalam sistem vaskular ibu, hal ini akan meningkatkan curah jantung sekitar 10-15% pada tahap pertama persalinan dan sekitar 30-50% pada tahap kedua persalinan. Akibat kontraksi, aliran darah menurun pada arteri uterus. Maka timbul tahanan perifer, tekanan darah meningkat dan frekwensi denyut nadi melambat. Terjadi beberapa perubahan pembuluh darah perifer, kemungkinan sebagai respon terhadap dilatasi serviks atau kompresi pembuluh darah ibu oleh janin yang melalui jalan lahir. Pipi menjadi merah, kaki panas atau dingin dan terjadi prolaps hemoroid.
2.      Perubahan pernapasan. Sistem pernapasan juga beradaptasi. Peningkatan aktivitas fisik dan peningkatan pemakaian oksigen terlihat dari peningkatan frekwensi pernapasan. Hiperventilasi dapat menyebabkan alkalosis respiratoric (pH meningkat), hipoksia dan hipokapnea (CO2 menurun). Pada tahap kedua persalinan, jika wanita tidak diberi obat-obatan, maka ia akan mengkonsumsi oksigen hampir dua kali lipat. Kecemasan juga meningkatkan pemakaian oksigen.
3.      Perubahan pada ginjal. Selama persalinan wanita dapat mengalami kesulitan untuk berkemih secara spontan akibat berbagai alasan: edema jaringan akibat bagian presentasi, rasa tidak nyaman, sedasi, dan rasa malu. Proteinuria +1 dapat dikatakan normal. Dan hasil ini merupakan respon rusaknya jaringan otot akibat kerja fisik selama persalinan.
4.      Perubahan integument. Adaptasi sistem integumen jelas terlihat. Khususnya pada gaya distensibilitas daerah introitus vagina (muara vagina). Tingkat distensibilitas ini berbeda-beda pada setiap individu meskipun daerah itu dapat meregang, namun daoat terjadi robekan-robekan kecil pada kulit sekitar muara vagina.
5.      Perubahan musculoskeletal. Sistem muskuloskeletal mengalami stress selama persalinan. Diaforesis, keletihan, proteinuria (+1) dan peningkatan suhu menyertai peningkatan aktivitas otot yang menyolok. Nyeri punggung dan nyeri sendi (tidak berkaitan dengan posisi janin) terjadi sebagai akibat semakin regangnya sendi pada masa persalinan. Proses persalinan itu sendiri dan gerakan meluruskan jari-jari kaki dapat menimbulkan keram tungkai.
6.      Perubahan neurologi. Sistem neurologi menunjukkan bahwa timbul stress dan rasa tidak nyaman selama persalinan. Endorfin endogen (senyawa mirip morfin yang diproduksi oleh tubuh scara alami) dapat meningkatkan ambang nyeri dan menimbulkan sedasi. Selain itu, anestesia fisiologis jaringan perineum menurunkan persepsi nyeri.
7.      Perubahan pencernaan. Bibir dan mulut dapat menjadi kering akibat wanita bernapas melalui mulut, dehidrasi, dan sebagai respon emosi terhadap persalinan. Selama persalinan, motilitas dan absorpsi saluran cerna menurun dan waktu pengosongan lambung menjadi lambat.
8.      Perubahan endokrin. Sistem endokrin aktif selama persalinan. Awitan persalinan dapat diakibatkan oleh pnurunan kadar progesteron dan peningkatan kadar estrogen, prostaglandin dan oksitosin. Metabolisme meningkat dan kadar glukosa darah dapat menurun akibat proses persalinan.

Adaptasi psikologis
1.      Faktor psikologis adalah sikap dan keadaan mental ibu bersalin, dimana banyak reaksi psikis yang timbul yang biasanya diekspresikan antara lain dengan marah-marah, menjerit-jerit, dan lain-lain.
2.      Ketakutan. Ketakutan karena sering mendengar cerita mengerikan dari kerabat atau teman tentang pengalaman saat melahirkan, ada teman atau kerabat calon ibu saat proses kelahiran mengalami kenyataan yang tidak diinginkan, seperti sang ibu atau bayi yang dikandung meninggal. Ketakutan juga saat melihat darah
3.      Kekhawatiran (kecemasan). Kontraksi yang lama-kelamaan meningkat menambah beban ibu, sehingga kekhawatiran pun bertambah. Bila tidak ditangani dengan baik, bisa merusak konsentrasi ibu sehingga persalinan yang diperkirakan lancar, berantakan akibat ibu panik. Kekhawatiran yang teramat sangat pun bisa membuat otot-otot, termasuk otot di jalan lahir, bekerja berlawanan arah, karena dilawan oleh ibu yang kesakitan. Akibatnya, jalan lahir menyempit dan proses persalinan berjalan lebih lama dan sangat menyakitkan.
4.      Pengalaman melahirkan pertama kali memberikan perasaan yang bercampur baur antara bahagia dan penuh harapan dengan kekhawatiran tentang apa yang akan dialami semasa persalinan.
·           Menangis, tidak sabar, tidak percaya diri, sensitive,  dan mudah tersinggung.
·           Kegiatan komunikasi terapeutik pada ibu melahirkan merupakan pemberian bantuan pada ibu yang akan melahirkan dengan kegiatan bimbingan proses persalinan.
·           Tujuan Komunikasi terapeutik pada ibu dengan gangguan psikologi saat persalinan.
·           Membantu pasien memperjelas serta mengurangi beban perasaan dan pikiran selama persalinan.
·           Membantu mengambil tindakan yang efektif untuk pasien.
·           Membantu mempengaruhi orang lain, lingkungan fisik dan diri sendiri untuk kesejahteraan ibu dan proses persalinan agar dapat berjalan dengan semestinya.
·           Menjalin hubungan yang mengenakkan (rapport) dengan klien.
·           Kehadiran. Meliputi mengatasi semua kekacauan/kebingungan, memberikan perhatian total pada klien.
·           Mendengarkan. Bidan/perawat  selalu mendengarkan dan memperhatikan keluhan klien.
·           Sentuhan dalam pendampingan klien yang bersalin.
·           Memberi informasi tentang kemajuan persalinan.
·           Memandu persalinan dengan memandu intruksi khusus tentang bernafas, berelaksasi dan posisi postur tubuh.
·           Mengadakan kontak fisik dengan klien.
·           Memberikan pujian.
·           Memberikan ucapan selamat pada klien atas kelahiran putranya dan menyatakan ikut berbahagia. 

            Cara mengatasi nyeri kontraksi pada tahapan persalinan
1. Cara mengatasi nyeri kala I yaitu menekan torakal 11-12, menekan sakral 2, 3 dan 4 dan terapi sentuhan
2. Kala II: Nyeri diakibatkan oleh tekanan kepala janin pada pelvis, Distensi struktur pelvis dan tekanan  pleksus lumbosakralis.Cara mengatasi nyeri kala II : distraksi, relaksasi dan hipnotik
Hal-hal yang harus diperhatikan pada nyeri kala II: a) jangan menahan ikut saja mengikuti kontraksi , b) langsung mengedan kearah bawah, c) selalu mengambil napas dalam untuk mengisi awal dan akhir kontraksi, d) jangan mengejan terlalu panjang tanpa mengambil napas.Rileks pada saat tidak ada kontraksi.
3. Cara mengatasi nyeri kala III: Distraksi, Relaksasi, dan Hipnotik
4. Cara mengatasi nyeri kala IV : Distraksi, Relaksasi, Perubahan suhu, Terapi air

2.4 Tindakan Pembedahan Pada Persalinan
A.  Amniotomi
Selaput ketuban dilukai / dirobek dengan menggunakan separuh klem Kocher (ujung bergigi tajam), steril, dimasukkan ke kanalis servikalis.
Indikasi amniotomi adalah sebagai berikut : a) jika ketuban belum pecah dan serviks telah membuka sepenuhnya, b) akselerasi persalinan dan c) persalinan pervaginam menggunakan instrumen

B. Epiostomi
Merupakan insisi perineum untuk memperbesar mulut vagina. Indikasi Epiostomi adalah a) bayi besar, b) primigravida, c) persalinan cepat, dimana tidak tersedia cukup waktu untuk peregangan perineum, d) lengkung subpubis sempit dengan pintu keluar yang sempit, e) malpresentasi janin (mis. Letak muka)
Pendukung tindakan epiostomi menyatakan bahwa tindakan ini mempunyai manfaat sebagai berikut :
-          Mencegah robekan perineum. Karena insisi bersih lebih cepat sembuh daripada robekan yang tidak teratur
-          Mengurangi regangan otot penyangga kandung kemih yang terlalu kuat dan berkepanjangan  yang kemudian hari menyebabkan inkontinensia urine atau prolaps vagina.
2.3 Manajemen Nyeri Persalinan Non Farmakologi
Nyeri adalah suatu sensori yang tidak menyenangkan dari satu pengalaman emosional yang disertai kerusakan jaringan secara actual/potensial.(Medical Surgical Nursing).
Nyeri kontraksi atau nyeri persalinan adalah gerakan memendek dan menebal otot-otot rahim yang terjadi untuk sementara waktu. Kontraksi rahim menyebabkan kontraksi pada mulut rahim dan menimbulkan rasa nyeri,dan juga rahim bagian bawah mengalami dilatasi (peregangan).
Faktor-faktor yang mempengaruhi nyeri kontraksi adalah a) intensitas dan lamanya kontraksi rahim, b) besarnya janin dan keadaan umum pasien, c) pasien dengan primipara pada usia tua dan pada usia muda, d) besarnya janin atau jalan lahir yang sempit, dan e) kelelahan dan kurang tidur.

Metode Pengendalian Nyeri Non Farmakologis
Beberapa hal yang dapat dilakukan dalam mengatasi nyeri saat persalinan, yaitu salah satunya dengan memberikan terapi non farmakologis. Terapi non-farmakologis yaitu terapi tanpa menggunakan obat-obatan, tetapi dengan memberikan berbagai teknik yang setidaknya dapat sedikit mengurangi rasa nyeri saat persalinan tiba. Beberapa hal yang dapat dilakukan ialah :
a.    Relaksasi. Relaksasi adalah teknik untuk mencapai kondisi rileks. Maksudnya ketika seluruh sistem saraf, organ tubuh, dan panca indra kita beristirahat untuk melepaskan ketegangan yang ada. Dengan menarik nafas dalam-dalam kita mengalirkan oksigen ke darah yang kemudian dialirkan ke seluruh bagian tubuh. Hasilnya kita menjadi lebih tenang dan stabil. Relaksasi otot skeletal dipercaya dapat menurunkan nyeri dengan merelaksasikan ketegangan otot yang menunjang nyeri terdiri atas nafas abdomen dengan frekuensi lambat dan berirama. Pasien memejamkan mata dan bernafas dengan perlahan-lahan dan nyaman.
b.    Psikoanalgesia. Pada dasarnya cara yang dilakukan adalah melatih ibu agar mempunyai respon yang positif terhadap persalinan sehingga nyeri persalinan tidak menimbulkan hal-hal yang mempersulit lahirnya bayi. Latihan-latihan yang diberikan dapat dengan mengadakan latihan pernapasan ataupun dengan melakukan konsentrasi pada saat persalinan. Latihan pernapasan pada persalinan kadang-kadang dapat pula menimbulkan hyperventilasi pada ibu.
c.    Hipnosis. Hipnosis merupakan suatu proses sederhana agar diri kita berada pada kondisi rileks, tenang dan terfokus guna mencapai suatu hasil atau tujuan.
d.    Imajinasi. Imajinasi terbimbing melibatkan wanita yang menggunakan imajinasi untuk mengontrol dirinya. Hal ini dicapai dengan menciptakan bayangan yang mengurangi keparahan nyeri.
e.    Akupresur. Merupakan salah satu teknik nonfarmakologi yang paling efektif dalam manajemen nyeri persalinan. Akupresur disebut juga akupunktur tanpa jarum, atau pijat akupunktur. Teknik ini menggunakan tenik penekanan, pemijatan, dan pengurutan sepanjang meridian tubuh atau garis aliran energi. Teknik akupresur ini dapat menurunkan nyeri dan mengefektifkan waktu persalinan.Akupuntur lasik mendapat dasar teori dari pengobatan cina tradisional. Konsep pentingnya adalah bahwa kesehatan bergantung pada keseimbangan antara kekuatan energy yang berlawanan, sehingga sakit-sehat atau penyakit diakibatkan oleh ketidakseimbangan energi.
f.     Masasse. Masasse adalah melakukan tekanan tangan pada jaringan lunak, biasanya otot, atau ligamentum, tanpa menyebabkan gerakan atau perubahan posisi sendi untuk meredakan nyeri ,menghasilkan relaksasi, dan / atau memperbaiki sirkulasi. Masase adalah terapi nyeri yang paling primitivedan menggunakan refleks lembut manusia untuk menahan, menggosok, atau meremas bagian tubuh yang nyeri.
g.    Terapi air. Metode ini dilakukan dengan cara berendam dengan air hangat yang akan menyebabkan vasodilatasi dan otot dimana tekanan darah akan menurun, mengurangi trauma perineal, emosi membaik, membebaskan nyeri dan menstimulasi dilatasi servikal.
h.    Distraksi. Memfokuskan perhatian pasien pada sesuatu selain pada nyeri merupakan mekanisme yang bertanggung jawab pada teknik kognitif afektif lainnya. Distraksi diduga dapat menurunkan persepsi nyeri dengan stimulasi nyeri yang di tranmisikan ke otak, distraksi dapat berkisar dari hanya pencegahan monoton sampai menggunakan aktivitas fisik dan mental yang sangat kompleks.
i.      Hipnotik. Hipnotik dapat mengurangi sensasi nyeri untuk wanita dalam prosess melahirkan caesaria. Hipnotik fleksibel tidak ada yang tahu efeknya, seperti hipotensi, muntah respirasi bayi dengan depresi

Penatalaksanaan Nyeri Nonfarmakologi
Metode Persiapan Melahirkan
1.      Metode Dick-Read. Rasa takut, tegang, dan nyeri adalah tiga selubung yang bertentangan dengan aalam. Apabila ketiganya berjalan beriringan , maka diperlukan tindakan untuk meringankan ketegangan dan mengatasi rasa takut. Program Dick-Read meliputi pemberian informasi tentang persalinan dan melahirkan, disamping nutrisi, higine, dan latihan fisik. Kelas-kelas ini mengajarkan tiga teknik : latihan fisik untuk membuat tubuh siap saat melahirkan, latihan relaksasi secara sadar, dan latihan pola nafas.
2.      Metode Lamaze. Rasa nyeri merupakan respon bersyarat. Strateginya yaitu dengan memusatkan perhatian pada titik perhatian lain agar jalur syaraf tidak berespon terhadap stimulus nyeri.metodenya yaitu dengan mengendalikan  relaksasi otot dan pernafasan sebagai ganti berteriak dan kehilangan kendali.  Wanita diajarkan merelaksasi otot-otot yang tidak terlibat saat ia mengontraksi kelompok otot tertentu.Pernafasan dada mengangkat diafragma dari rahim yang berkontraksi sehingga menciptakan lebih banyak ruang bagi rahim untuk berkembang.
3.      Metode Bradley. Melahirkan secara alami tanpa analgesia, tapi dengan memakai bantuan suami dan teknik pernafasan khusus pada saat melahirkan. Bradley menekankan pada keharmonisan tubuh yakni dengan melakukan control pernafasan, pernafasan perut, dan relaksasi tubuh.
2.5 Persalinan Postmatur
A. Defenisi
Persalinan postpartum adalah persalinan yang terjadi setelah usia kehamilan yang melewati 294 hari atau lebih dari 42 minggu lengkap. Defenisi kehamilan postrem sebagai kehamilan yang berlangsung selama 42 minggu atau lebih, sejak awal menstruasi menganggap bahwa menstruasi terakhir diikuti engan ovulasi 2 minggu kemudian. Meskipun defenisi ini mungkin benar untuk 10% kehamilan, beberapa kehamilan mungkin sebenarnya bukan postrem tetapi lebih merupakan akibat kesalahan penaksiran usia gestasi. Ada kemungkinan terdapat 2 kategori kehamilan yang mencapai 42 minggu lengkap :
Yang benar-benar 42 minggu setelah konsepsi
Kehamilan belum terlalu lanjut, karena bervariasinya waktu ovulasi.
A.    Etiologi
Penyebab pasti belum diketahui, factor yang dikemukakan adalah
1.      Hormonal, yaitu kadar progesterone tidak cepat turun walaupun kehamilan sudah cukup bulan, sehingga kepekaan uterus terhadap oksitosin berkurang.
2.      Herediter, karena postmaturitas sering dijumpai pada suatu keluarga tetentu
3.      Kadar kortisol pada darah bayi yang rendah, sehingga di simpulkan kerentanan akan stress dan merupakan factor tidak timbulnya his.
4.      Kurangnya air ketuban
5.      Insufisiensi plasenta.

B.     Patofisiologi
Kelahiran postmatur bisa terjadi pada wanita yang hamil pertama kali. Ibu multipara dan riwayat wanita yang lahir lewat waktu. Penyebab paling sering yaitu terjadinya kesalahan dalam hitung dan siklus haid yang tidak teratur. Jika ibu telah mengalami riwayat kehamilan postmatur untuk pertama kali maka meningkatkan resiko kehamilan postmatur selanjutnya 2-3 kali.
Plasenta mencapai puncak fungsinya pada kehamilan 38-42 minggu setelah itu mengalami penurunan. Hal ini dapat dibuktikan dengan penurunan kadar esteriol dan plasental laktogen. Penuaan plasenta mengakibatkan penurunan pemasokan oksigen dan nutrisi disamping adanya spasme arteri spiralis sehingga pertumbuhan janin terhambat. Sirkulasi uteroplasenter akan berkurang 50%. Jumlah air ketuban juga berkurang, akibatnya adalah perubahan keabnormalan jantung janin. Menjelang partus terjadi penurunan hormao progesterone, peningkatan oksitosin serta peningkatan reseptor oksitosin. Tetapi yang paling menentukan adalah terjadi produksi prostaglandin yang menyebabkan his kuat. Pada postmaturitas progresteron tidak turun menyebabkan kepekaan uerus terhadap oksitosin menurun.
Nwosu dan kawan-kawan menemukan perbedaan dalam rendahnya kadar kortisol pada darah bayi yang dapat menyebabkan stress sebagai factor tidak timbulnya his.

BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Persalinan normal adalah proses pengeluaran janin yang terjadi pada kehamilan cukup bulan ( 37-42 minggu ), lahir spontan dengan presentasi belakang kepala yang berlangsung dalam 18 jam, tanpa komplikasi baik pada ibu maupun pada janinnya.
Persalinan dibagi dalam empat kala yaitu kala 1 ( dimulai dari saat persalinan mulai sampai pembukaan lengkap ), kala 2 ( dimulai dari pembukaan lengkap sampai bayi lahir ), kala 3 ( dimulai segera setelah lahir sampai lahirnya plasenta ) dan kala 4 ( dimulai saat lahirnya plasenta sampai 2 jam pertama postpartum
Ada dua adaptasi ibu selama persalinan yaitu adaptasi fisk dan adaptasi psikologi
Postmatur menunjukan atau menggambarkan kaadaan janin yang lahir telah melampauhi batas waktu persalinannya, sehingga dapat menyebabkan beberapa komplikasi. Belum ada penyebab pasti terjadinya postmatur ini dan sebagian besar bisa diselesaikan dengan persalinan induksi maupun seksio sesaria dan bidan tidak berwenang menolong persalinan dengan kehamilan postmatur kecuali bidan di rumah sakit dengan kolaborasi dengan dokter.
B. Saran
-                          Sebaiknya persalinan dengan postmatur dilakukan di rumah sakit atas kolaborasi dengan dokter
-          Kehamilan postmatur harus secepatnya dideteksi untuk menghindari komplikasi terutama pada janin
-          Bidan sebaiknya dapat mendeteksi kehamilan postmatur untuk menghindari komplikasi dan mengambil tindakan yang tepat untuk menanganinya.

DAFTAR PUSTAKA

Bobak, dkk. 2004.  Buku Ajar Keperawatan Maternitas. Jakarta: EGC
Cunningham, Gery, dkk. 2005. Obstetri Williams ed.21. Jakarta : EGC
McCloskey and Bulechek. 1996. Nursing Intervention Classification. Unived State of
Prawirohardjo, Sarwono. 1991. Ilmu Kebidanan. Jakarta : Yayasan Bina Pustaka
Tucker, Susan Martin,dkk. 1998.  Standar Keperawatan Pasien. Jakarta: EGC